Bandung Tourism Competition 2012

Overview

Bandung Tourism Competition 2012 adalah kompetisi marketing plan yang bertujuan untuk mengembangkan potensi pariwisata kota Bandung dan sekitarnya yang hasilnya akan menjadi referensi pemerintah daerah dalam pengembangan pariwisata.

Setelah suksesnya Bandung Tourism Competition 2011 menarik 150 peserta dari 21 universitas di pulau Jawa yang mampu menghasilkan sebuah marketing plan untuk KebunBinatang Bandung, juga telah diajukan kepada pemerintah daerah, maka, HIMA Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran mengadakan Bandung Tourism Competition 2012.

Terletak 30 km dari pusat kota Bandung, Gunung Tangkuban Perahu telah lama menjadi pusat atraksi pariwisata alam yang kaya aka ncermin budaya lokal. Maka, Bandung Tourism Competition 2012 mengangkat Gunung Tangkuban Perahu sebagai tema tahun ini.

Event Content

Registrasi :          9 Mei – 6 Juni 2012

Formulir pendaftaran dan ketentuan dapat di download di bandung tourism competition 2012.blogspot.com

Workshop :         9 Juni 2012 di Bale Rumawat Unpad DipatiUkur.

Peserta dibekali informasi mengenai objekwisata yang menjadi tema dan ilmu pemasaran

Deadline Pengumpulan Marketing Plan : 20 Juni 2012

Pengumuman 10 Finalis : 26 Juni 2012

Grand Final :       1 Juli 2012 di Bumi Sangkuriang, Ciumbuleuit.

Presentasi 10 marketing plan terbaik yang telah diseleksi oleh para professional dalam bidang terkait,serta pengumuman pemenang, & penyerahan Piala Gubernur Bergilir Bandung Tourism Competition.

Contact Us

A.Chairumi : 085717179782

Bandungtourismcompetition2012.blogspot.com

@bdgtourismcomp

bandungtourismcompetition@gmail.com

Socialpreneur National Business Challenge 2012

SOCIALENTREPRENEUR NATIONAL BUSINESS CHALLENGE – ELIGIBILITY

Team Composition & Registration Fee

  • Submission may be entered by individuals or teams of up to 5 (five) persons.
  • Develop a feasible business idea concerning about social entrepreneurship.
  • The business idea should related one of the themes below
  1. Poverty
  2. Women Empowerment
  3. Education
  4. Environment
  5. Health and Disability
  • The members are currently enrolled as university students (undergraduate & master degree)
  • The students from various universities are allowed to form as one team.
  • Registration fee of  each idea submitted is Rp 350.000,00
  • The registration payment is addressed to

Bank Account – CIMB Niaga branch FEUI Depok

9600 100 495 180

a/n Shafira Firdausi

Contents

  • The idea must be the original work of entrants.
  • The budget constrain of the idea is maximum Rp 10.000.000,00
  • Every individuals/team required to make a video that represent the business idea application with the maximum of length 10 minutes.
  • The business ideas submitted haven’t been applied / established yet.
  • Any team/individual discovered to be submitting other’s idea without appropriate content and attribution will be disqualified from the competition

Registration and Submission

  • Registration starts on December 27th 2011 until March 17th 2012.
  • Registration form can be downloaded on http://www.mediafire.com/?ln8i3ccpn26p0ju
  • You have to submit the registration form with the scanned payment receipt to socialpreneurbc@gmail.com in order to get the proposal writing guidance and assessment criteria.
  • Please submit three (3) hardcopies of your business proposal and one CD contains softcopy of your business proposal and the video. *the proposal format in .pdf and video format in .mp4
  • The hardcopies and CD should be submitted together with these documents below :
  1. One hardcopy of registration form with 3 x 4 colors photograph each member for the last 6 months.
  2. One copy of student ID and valid identification card for each member
  • All complete application form (including all necessary supporting documents) must be received by committee no later than March 24th 2012. Entrants must put the code “National Business Challenge” on the left upper corner of the envelope and send it to :

AIESEC LOCAL COMMITTEE UNIVERSITAS INDONESIA

Gedung Student Center, 1st Floor

Kampus Baru UI Depok, 16424

  • The Winners of National Business Challenge will be announced on April 7th 2012.
  • The Presentation Day will be held on April 14th 2011 (on Gala Networking Event National Project Social Entrepreneurship).

Prizes

  • If selected as winners, at least one team member must present the business idea together with the video. Failure to meet this requirement will result in the forfeiture of any prize won.
  • The total prize for the three selected business ideas is Rp 30.000.000,00.
  • Each team will get Rp 10.000.000,00 to start up their business.
  • The winners have to make an annual report about their business, and if the business runs well, we will give another Rp 10.000.000,00 to use as the business development each year.
  •  The winners are expected to behave respectfully to other winners, judges, committees, sponsors, and audience member.

For Further Information, please contact

  • Indira     : +6287878150559
  • Yulia       : +6281281019799
  • Twitter : @AIESEC_UI
  • www.aiesecui.org

Business Plan & Marketing Idea Competition Award (BP & MICA) 2011

Lomba Pembuatan Proposal Bisnis (Business Plan), Kompetisi ini diselenggrakan setelah pelaksanaan sekolah kewirausahaan. Tujuan utama dari lomba ini adalah untuk memotivasi, mengapresiasi, dan mengembangkan semangat berwirausaha di kalangan mahasiswa. Panitia menyediakan total hadiah Rp 100.000.000,00 bagi mereka yang mampu menuliskan proposal bisnis terbaik dengan mengacu pada materi yang telah didapatkan pada sekolah kewirausahaan.

Syarat Peserta

Khusus mahasiswa/i di semua perguruan tinggi negeri maupun swasta yang masih aktif melakukan perkuliahan. Belum menyandang status sarjana (S.1) atau diploma (A.Md) dan tidak berlaku bagi mereka yang semester 10 keatas.

Waktu dan Biaya Pendaftaran
Pendaftaran dapat dilakukan mulai tanggal 01 November 2011 Hingga 31 Desember 2011.
Biaya Rp 85.000,- Bagi peserta Individu maupun Tim(1 Tim maksimal 2 orang).

Fasilitas

Peserta Business Plan Competition(Kompetisi Proposal Bisnis) gratis mengikuti Entrepreneurship School (Sekolah Kewirausahaan).
1. Entrepreneurship School/Sekolah Kewirausahaan selama 1 pekan, materi berkala.
2. Video dan Modul Training Lengkap Seputar Kewirausahaan(Cara Memulai Bisnis).
3. E-Book Lengkap tentang profile pengusaha dan cara mereka membangun bisnisnya.
4. Sertifikat Nasional Lengkap dengan Foto Masing-Masing Peserta, Sertifikat ditandatangani Menteri Koperasi dan UKM Republik Indonesia dan Label Museum Rekor Indonesia(MURI).

5. Akomodasi dan transportasi bagi finalis nasional.

For Further Information visit :

http://www.mica2011.com/

Inspirasi Paspor.. :)

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

“Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?”
Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport. Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide-nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani.

Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.

Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

Rhenald Kasali
Guru Besar Universitas Indonesia